LOMBOK TIMUR | FMI – Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan pihak dapur Satuan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pemongkong, kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, viral di Medsos karena kuantitas dan kualitas menu dianggap tak sesuai anggaran.
Dalam rekaman video yang beredar, sosok yang diduga seorang guru di salah satu sekolah menunjukan tiga buah totebag berisi menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Diduga SPPG menyalurkan MBG kepada siswa penerima manfaat dengan skema ravel tiga hari.
Sambil merekam video, sosok guru itu menunjukan menu yang ada dalam totebag pertama berupa kerupuk cangkang kepiting, Sari Kacang Hijau, 2 buah salak dan roti. Mirisnya, satu buah salak ditemukan dalam kondisi tidak layak makan atau busuk.
“Ya allah, ini buah salaknya busuk, ya allah tega sekali,” kata sosok yang merekam video itu.
Sementara totebag kedua, berisi roti, kerupuk rumput laut, sari kacang hijau dan 3 buah salak. “Dibungkusan kedua ini, salaknya bagus, kalau bungkusan pertama tadi salaknya busuk,” terangnya.
Kemudian dalam bungkusan totebag ketiga, kata sosok perekam video itu menyebut isiannya 2 buah kripik tempe, roti, sari kacang hijau dan 2 buah salak. Parahnya, pada totebag ketiga, lagi-lagi ditemukan buah salak kondisi busuk.
“Pokoknya ada 3 macam untuk satu hari ini,” jelanya sambil menunjukan totbag.
Kepala SPPG Pemongkong, Novita membantah sistem pemberian MBG dengan skema rapel. Menurutnya, menu yang didistribusikan kepada penerima manfaat pada Sabtu, 7 Maret 2026, berbeda-beda lantaran pihak supplier tidak mampu memenuhi jumlah pesanan.
“Karena suplayer keripik rumput laut tidak sanggup buat porsi banyak, jadinya diganti dengan kerupuk cangkang kepiting yang juga produksi dari UMKM itu,” ujar Novita.
Ia mengatakan, pesanan keripik rumput laut dan kerupuk cangkang kepiting masih kurang, sehingga pihaknya menggunakan keripik tempe yang budgetnya sama dengan keripik rumput laut.
Sementara terkait buah salak yang ditemukan dalam kondisi busuk, Novita mengaku belum mendapatkan informasi ditemukannya di sekolah mana.
“Untuk buah salak yang busuk, kami belum dapat informasi dari sekolah mana. Biasanya guru langsung lapor kalau memang ada buah yang rusak dan kami langsung ganti di hari itu juga,” imbuhnya.***













