LOMBOK TIMUR | FMI – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram atau gas melon bersubsidi di semua kecamatan di Lombok Timur, ternyata bukan isu belaka. Bahkan untuk mengatasi masalah ini, Pemerintah Daerah (Pemda) setempat sampai membentuk tim pengawas distribusi elpiji bersubsidi.
Tak hanya itu, untuk mengatasi kelangkaan elpiji ini, Pemda bersurat ke Pertamina agar menambah kuota bagi Lombok Timur sehingga masalah tersebut dapat terselesaikan.
Hal itu disampaikan Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin dalam acara Silaturahmi dan Halal Bihalal dengan Guru dan Pegawai lingkup Dikbud Kecamatan Montong Gading, Rabu 8 April 2026.
Bahkan orang nomor satu di Lombok Timur itu memperingatkan oknum-oknum yang menumpuk gas atau menjual barang subsidi di atas harga resmi.
“Menjual barang subsidi di atas harga jual bisa kena suspend atau hukuman. Saya minta masyarakat jangan menumpuk gas, gunakan sesuai kebutuhan,” imbuhnya.
Diberitakan sebelumnya, Sekretaris Daerah (Sekda), Juaini Taofik menegaskan bahwa Lombok Timur berhasil mendapatkan tambahan kuota distribusi sebanyak 24 ribu tabung.
Penambahan kuota ini, kata Juaini Taofik, mulai disalurkan pada Senin 6 April 2026 dengan fokus pada empat kecamatan terdampak, yaitu Pringgasela, Lenek, Aikmel, dan Wanasaba.
“Penambahan kuota ini adalah hasil koordinasi langsung dengan Pertamina agar distribusi LPG 3 kilogram bisa kembali normal dan tepat sasaran,” tegas Sekda Juaini.
Dalam skema terbaru, menurut dia, distribusi yang sebelumnya berjalan dengan kapasitas normal sekitar 35.000 tabung, kini ditambah sebanyak 24.480 tabung. Penambahan ini diharapkan dapat menekan kelangkaan dan memastikan distribusi lebih efektif dan merata.***













