LOMBOK TIMUR

Diduga Menganut Sistem Dinasti, Pengelola Bale Mangrove Didemo Warga

×

Diduga Menganut Sistem Dinasti, Pengelola Bale Mangrove Didemo Warga

Share this article

LOMBOK TIMUR | FMI – Ratusan warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Poton Bako, menggelar aksi unjuk rasa di depan pintu masuk Ekowisata Bale Mangrove.

Pantauan di lokasi demo, Sabtu 3 Januari 2026 sekitar pukul 08.30 Wita, warga satu persatu mulai berdatangan membawa spanduk bertuliskan “Tutup Bale Mangrove” dan “Stop Dinasti”.

Sementara pihak keamanan dari Kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) terlihat berdatangan setelah massa akasi sudah berkumpul dan menyampaikan orasi.

Kehadiran pihak keamanan untuk mengamankan jalannya aksi demo.

Nampak seorang massa aksi sembari membawa spanduk, dengan tegas meminta agar wisata bale mangrove ditutup dan disegel.

“Tutup Bale Mangrove” teriaknya.

Tak hanya itu, wartawan media ini juga mewawancarai seorang warga bernama inaq Wet, dalam keterangannya sosok paruh baya itu mengungkapkan kekeecewaannya tehadap pengelola wisata bale mangrove, lantaran tidak diberikan izin berjualan.

“Dulu diawal-awal dibangun kita minta izin jualan tapi tidak dikasih, kecuali dengan bayar. Sementara yang dikasih jualan hanya kelurga dari pengelola. Kecuali kalau kita bayar baru kita dikasih,” ujarnya bercerita.

Hal senada juga dikatakan salah satu massa aksi. Ia menegaskan bahwa setiap kali suaminya meminta izin jualan, selalu ditimpali dengan alasan tidak ada lapak, tidak ada tempat.

Sosok emak-emak itu juga menegaskan bahwa, yang berjualan di dalam lokasi bale mangrove hanya dari kalangan kelurga pengelola.

Selain itu, ia menegaskan bahwa setelah ada penimbunan untuk perluasan areal wisata, masyarakat yang sebelumnya tidak terdampak banji ROB, mengeluh karena akibat penimbunan itu jadinya terdampak banjir.

“Ketika air laut pasang, airnya langsung membanjiri are rumah setelah adanya penimbunan ini,” jelasnya.

Dia juga menehaskan bahwa dengan adanya aksi ini, masyarakat meminta agar ada pergantian pengelola dan masyarakat poton bako direk harus dikasih jualan, jangan hanya keluarganya.

“Intinya kami minta ganti pengelola dan masyarakat lain dikasih jualan, sebab ekowisata ini mempetoleh bantuan dari pemerintah karena pengelolanya bawa nama masyarakat,” tutupnya.

Sementara Pengelola Bale Mangrove, Lukman Hakim dalam kolom komentar di grup whatshapp fokus lotim menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah melupakan pemuda-pemuda poton bako yang ikut terlibat merintis ekwisata tersebut.

“Kami tidak mengeluarkan kawan-kawan dan kami tidak melupakan kawan-kawan yang ikut merintis, mereka yang keluar dan mereka yang menjauh, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan,” tukasnya.

Sedangkan dalam postingan akun media sosial Ekowisata Bale Mangrove, menyampaikan permohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat atas kekisruhan yang terjadi.

“Izin kami ingin menginfokan bahwa Ekowisata Bale Mangrove telah menyerahkan PADES ke desa Jerowaru dengan nominal Rp750 ribu perbulan atau Rp9 juta pertahun dan kas pembangunan masjid ke dusun poton bako Rp1 Juta perbulan atau Rp12 juta petahun,” tulis akun itu.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *