Lombok Timur, FMI – Enam puluh tujuh tahun Indonesia merdeka, pandemi masih ada, orang mati makin banyak karena manusia yang punya wewenang dan kekuatan tak begitu cermat menangani manusia lain yang butuh pertolongan, orang-orang tenggelam pada kekhawatiran atas diri dan cenderung abai terhadap jenis peribadatan lain yang harusnya tunai dengan baik.
Menciutnya perhatian dalam dunia pendidikan menjadi salah satu dari sejuta contoh kealpaan yang terjadi. Saya tak yakin, visi pendidikan Ki Hadjar Dewantara masih diingat dalam situasi begini.
Ketika keraguan ini terlintas, berangkat dari keresahan atas daruratnya pendidikan di tengah pandemi. Patjar Lentera Muda yang beranggota dua puluhan orang, tapi energi dari para anggotanya membuat saya merasa begitu kerdil karena resah namun tak tahu harus melakukan apa, sedang mereka sudah gesit bergerak. Kegelisahan ini membawa kaki kami untuk pergi ekspedisi ke salah satu pulau kecil yang disebut Gili yang ada di sekitar pulau Lombok.
Berangkat dari keresahan yang sama, akhirnya kami bergerak. Setalah sebelumnya, setahun yang lalu melakukan kegiatan intervensi pendidikan pedalaman berkelanjutan yang dikemas dengan Teaching, Empowering, and social sharing (TES) samapi terciptanya pusat pendidikan pertama berupa taman baca dan paud di Pelosok Lendang Terak Ekas.
Gili Belek adalah nama tempat di mana kami melakukan eksplor, jaraknya sepuluh menit dari Kecamatan Jerowaru. Akses ke Gili yang dirasa agak begitu sulit.menjadi kendala. Kami menggunakan sampan mungil dan terombang-ambing gelombang. Kepanikan dan ketakutan akan mati terasa mencekik. Bahkan, ada salah satu anggota yang cuma bisa tahan muntah karena mabuk laut ditambah fobia terhadap laut yang besar dan dalam (Thalassophobia)
Dalam suara mesin perahu, saya mencoba untuk tak gentar dengan larut memikirkan segala hal. Friedrich Engels serta konsep “pembunuhan sosial” menyisip dalam kepala.
Jika Engels berpendapat bahwa pembunuhan sosial terjadi ketika pemerintah telah membuat kebijakan yang mengakibatkan kelompok miskin jadi makin tak berdaya, bagaimana dengan pemerintah yang membuat kebijakan dan secara tak sadar membunuh isi kepala yang harusnya tumbuh?
Di suatu sore pada hari Jumat, 13 Agustus 2021, kami menginjakkan kaki di Gili Belek. Topografi Gili Belek terdiri dari tanah bertekstur kasar, kering, dan agak berkerikil. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan. Tidak terdapat jalan raya atau kendaraan bermotor seperti sepeda motor dan mobil.
Kedatangan kami di Gili Belek disambut masyarakat dengan antusias, khususnya para pemuda. Ramli adalah salah satu dari mereka yang membawa kami menyebrang dan melewati dermaga. Ia seorang pemuda dengan kulit putih yang matang memerah di bagian pipi, berambut panjang dan tampak selalu diikat kuat ke belakang, iklim panas serta tanah Gili yang berdebu memahatnya dengan gagah.
Ramli membawa kami ke posko yang telah disediakan, melewati satu-satunya sekolah yang berada di Gili Belek. Bangunannya begitu tak terurus seperti sarang hantu, bangku-bangku berdebu, atap yang roboh, pun cat yang ada pada temboknya ibarat kertas partitur yang terkena tumpahan air, lembab, jelek, dan terkelupas.
SDN 01 Permas serta SMP Satu Atap 08 Jerowaru berada dalam satu bangunan. Sekolah setingkat SMA tidak ada sama sekali, jika hendak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi dari SD dan SMP, siswa Gili Belek diharuskan untuk pergi ke luar pulau. SMA di Jerowaru menjadi alternatif paling dekat. Sekolah lama tak digunakan karena kebijakan PPKM yang diberlakukan serta tenaga pengajar yang seluruhnya berada di luar Gili. Kegiatan belajar-mengajar otomatis menjadi macet dan tidak semua siswa Gili dapat mengakses gawai setiap waktu.
Patjar Lentera Muda sejak awal dirancang untuk fokus dalam intervensi pendidikan pedalaman. Kami mengawali kegiatan dengan mengumpulkan anak-anak Gili Belek di lapangan SDN 01 Permas dan melakukan perkenalan sederhana.
Mereka awalnya melihat kita dengan asing, namun percik antusiasme tak dapat lekang dari mata mereka. Tentu saja kami paham bahwa mereka butuh hal semacam ini untuk menulurkan semangat dan motivasi dalam rangka memberikan pola berpikir melihat pendidikan yang visioner kedepan.
Selama 5 hari kami berkegiatan mulai tanggal 13-18 Agustus 2021, dengan proaktif melakukan kegiatan belajar dan bermain yang menyentuh psikomotorik serta kognitif adik-adik gili beleq yang dikemas melalui kurikulum yang menarik dan relevan. Sasaran utama kegiatan ini adalah adik-adik, selanjutnya pemberdayaan terhadap pemuda dan masyarakat.
Puncaknya, tanggal 17 agustu s juga kami sempat melakukan kegiatan gee upacara kemerdekaan masyarakat Gili Beleq bersama masyarakat gili beleq. Setelahnya kegiatan lomba 17 Agustus 2021.
Hal, yang ditekankan kami adalah intervensi pendidikan pedalaman berkelanjutan, jadi setelah 5 hari ini kami memetakan pendidikan berkelanjutan seperti apa yang cocok dan relevan di Gili Beleq, sehingga kedepan kita akan tetap mem follow up kegiatan ini.
Penulis : Saada Surya