LOMBOK TIMUR | FMI – Dalam rangka menekan inflasi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Timur baru-baru ini kembali menyalurkan bantuan sosial (Bansos) berupa paket sembako kepada masyarakat katagori miskin ekstrim.
Sumber data penerima adalah data tunggal sosial ekonomi nasional (DTSEN) bulan Oktober 2025 yang sudah terinci by name by address. Dipastikan seluruh masyarakat miskin ekstrem berdasarkan data tersebut mendapat paket bantuan.
Bantuan paket sembako yang didistribusikan Pemda Lombok Timur itu berisi beras 10 kilogram, minyak goreng 1 liter, gula 1 kilogram, dan mie instan 3 biji.
Bahkan pada tahun 2026 mendatang, Pemda Lombok Timur akan melanjutkan program tersebut dengan alokasi anggaran Rp30 miliar.
“Pada tahun 2026, dalam rangka mengatisipasi inflasi, sudah kita anggarkan Rp30 miliar dan akan menjangkau tak kurang dari 200 ribu kepala keluarga,” jelas Wakil Bupati Lombok Timur Edwin Hadiwijaya saat menyerahkan paket sembako secara simbolis di Desa Bandok, Kecamatan Wanasaba pada Kamis kemarin.
Dari 200 ribu kepala keluarga (KK), kata dia, memperkirakan bisa menjangkau sampai desil 3. Kendati demikian, Wabup menegaskan akan memastikan terlebih dahulu jangkaunnya sampai desil berapa.
Banyakanya program bansos, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, masyarakat dikhawatirkan menjadi manja. Namun, hal itu ditepis Wabup Lombok Timur.
“Masyarakat tidak akan menjadi ‘manja’ karena mendapat berbagai jenis bantuan. Saya contohkan program Desa Berdaya yang tidak hanya memberikan modal kerja, tetapi juga tetap dijaga suplai kebutuhan atau bahan pokoknya, serta pendampingan,” tukasnya.
Ia berharap, kedepannya masyarakat dapat keluar dari desil 1, sejalan dengan target nol kemiskinan ekstrem tahun 2027 mendatang.***













