LOMBOK TIMUR | FMI – Satuan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Ribath Al-UMM (Yarim) Jerowaru tak henti-hentinya disorot publik.
Bahkan baru-baru ini beredar sebuah video seorang guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang diketahui berinisial ME mendatangi dapur MBG tersebut untuk meminta kejelasan.
Dari informasi yang dihimpun, pihak sekolah disebut menolak pembagian menu Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk tiga hari karena dinilai tidak sesuai dengan anggaran.
Tak hanya itu, yang terbaru dalam minggu ini, SPPG Yarim kembali disorot publik, lantaran viralnya unggahan di media sosial yang menampilkan video menu MBG berupa buah kurma belatungan dan begutuan yang dibagikan pada penerima manfaat, Kamis 25 Desember 2025.
Oilee Jerowaru dalam postingannya mengatakan, dirinya sangat bersyukur tidak langsung mengkonsumsi buah kurma yang diberikan pihak dapur. Menurutnya, kurma yang diberikan sudah belatungan dan kutuan.
“MBG Yarim Jerowaru bukan berikan gizi untuk janin, melainkan kasih penyakit,” kata dia dalam postingannya sembari menyarankan pihak dapur agar memberikan menu kepada ibu hamil yang tidak berbahaya.
Sontak postingan Oliee Jerowaru itu dibanjiri komentar netizen. Salah seorang netizan menyebut makanan MBG yang berikan SPPG Yarim semakin meresahkan.
“Semakin meresahkan makanan mbg ni,” tulis Nurhikmah Endang dalam kolom komentar.
Netizen lainnya dalam kolom komentar dengan tegas menyinggung, makanan yang diberikan pihak dapur sangat tidak layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat.
“Tidak layak dikonsumsi wah sik beng masyarakat ne,” tulis Netizen Zhey Nonk
Menanggapi viralnya isu kurma belatungan itu, Kepala SPPG Yarim Jerowaru, Lalu Febri Siswandi Aji mengatakan, sebelum mendistribusikan makanan, pihaknya terlebih dahulu melakukan pengecekan.
“Pas kami cek emang baik-baik saja, gak kek gitu, malahan aman banget,” ujarnya Jumat, 26 Desember 2025.
Febri melalui pesan singkat juga dengan tegas mengatakan, bahwa pihaknya tidak mungkin memberikan makanan yang tidak bagus maupun tidak layak konsumsi kepada penerima manfaat (PM).
“Kami juga gak mungkin kasih barang gak bagus ke PM. Logikanya, kami di dapur cuman menerima barang, baik bagusnya tetep kita cek, yang mengadakan barang mitra saya. Pas kita cek itu bagus, malah kita makan kemarin dan baik-baik aja rasanya, terus gak ada yang begutu kek gitu,” terang Febri berikan penjelasan.
Sosok kepala SPPG Yarim itu juga mengarahkan wartawan untuk mengkonfirmasi mitra selaku pihak yang melakukan pengadaan barang. “Lebih lanjutnya terkait pengadaan barang, lebih baik tanya mitra saya aja,” kata Febri.
Ketika disinggung kenapa mitra yang pengadaan barang, Febri dengan tegas menyebut bahwa itu bagian dari Standar Operasional Prosedur (SOP).
“Yaa emang itu SOP_nya, mitra yang adain barang mkasudnya mitra yang langsung pesen ke supplier,” imbuhnya.***













