LOMBOK TIMUR | FMI – HM Juaini Taofik kembali ditetapkan menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Timur dalam masa jabatan lima tahun mendatang.
Penyerahan SK penetapan Sekda itu diberikan Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin di sela-sela acara penyerahan Zakat lingkup Pemda dan masyarakat Lombok Timur serta peringatan Nuzulul Quran 1447 H di Pendopo Bupati Lombok Timur. Rabu 18 Maret 2026.
Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin menegaskan jika pihaknya menentukan Juaini Taofik menjadi Sekda karena beberapa pertimbangan, salah satunya adalah evaluasi dan penilaian yang dilakukannya selama 1 tahun masa jabatannya terhadap kinerja dari Juaini Taofik.
“Selama satu tahun satu bulan jabatan saya selaku Bupati, saya tentu melihat kinerja yang bersangkutan. Saya liat komunikasi dan kerjasama antar perangkat daerah sangat baik saat dia (Taofik, red) jadi Sekda,” kata sosok yang akrab disapa Haji Iron itu.
Selain kerjasama lintas perangkat daerah yang berjalan baik, dia juga menyebut jika Juaini Taofik mampu memberikan dukungan penuh padanya dalam satu terakhir dalam menjalankan tupoksinya sebagai Bupati.
“Termasuk juga kerjasama saya dengan dia dalam satu tahun ini sangat bagus dalam menjalankan roda pemerintahan. Jadi tidak ada masalah,” imbuhnya.
Masih lanjut dia, perpanjangan massa jabatan Juaini Taofik sebagai Sekda untuk lima tahun mendatang juga tak kelas dari penilaian tim Pansel.
Kata dia, proposal Jauini Taofik untuk mewujudkan birokrasi merit yang bermuara pada pelayanan publik yang prima juga tak lepas dari dasar pertimbangan dirinya selaku pejabat pembina kepegawaian untuk menetapkan keputusan strategis tersebut.
“Banyak pertanyaan tentang posisi jabatan Sekda dari tim Pansel diantaranya bagaiamana memajukan Lombok Timur, bagaiamana menjadi dapur yang baik dan mampu merawat semuanya, dan ternyata dia (Taofik, red) lulus dan diajukan ke pusat, dan di pusat juga tidak ada masalah, clear semuanya dari segi aturan ya sudah kita tetapkan,” tegasnya.
Sementara itu, salah satu tim sukses HW yang meminta identitasnya dirahasiakan secara blak-blakan menyebut, keputusan Bupati Lombok Timur menunjuk Juaini Taofik sebagai Sekda menjadi “Bom Waktu” yang kini mulai meledak di internal kekuasaan.
“Langkah Bupati ini bukan sekadar keputusan administratif, melainkan kesalahan politik fatal yang berpotensi menggerus basis kekuatan utama. Ini bukan lagi soal jabatan. Ini soal rasa pengkhianatan,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, kemenangan HW–Edwin pada Pilkada sebelumnya ditopang oleh kekuatan besar dari berbagai lini. Birokrasi disebut menyumbang hingga 15 persen suara, militansi basis HW sekitar 12 persen, kekuatan personal Edwin di angka 7 hingga 8 persen, serta suara mengambang sekitar 4 persen.
“Namun kini, pilar-pilar itu mulai runtuh satu per satu,” ujarnya.
Dari sisi birokrasi, kata sumber media ini, dukungan yang dulu solid kini pecah. Bahkan, menurutnya, potensi pembelahan bisa lebih besar dari kekuatan awal yang dulu mengantarkan kemenangan.
“Dulu mereka jadi tulang punggung. Sekarang justru jadi titik pecah paling keras,” ujarnya.
Kemarahan juga disebut datang dari barisan militan HW. Mereka merasa dikhianati karena figur yang selama ini dianggap sebagai lawan justru diberi “karpet merah” masuk ke lingkaran inti kekuasaan.
“Orang yang dulu dilawan, sekarang dirangkul. Sementara yang berdarah-darah ditinggal. Wajar kalau mereka marah,” katanya.
Akibatnya, basis militan yang dulu diperkirakan mencapai 12 persen kini disebut menyusut drastis, bahkan berpotensi tinggal di bawah 5 persen.
Situasi ini, ironisnya, justru membuka peluang lahirnya kekuatan tandingan dari dalam. Para pendukung saat ini mencari titik kumpul baru bagi kelompok yang kecewa, baik dari kalangan birokrat maupun militan lama.
“Jangan kaget kalau nanti yang kecewa ini berkumpul dan membentuk poros baru. Itu sangat mungkin terjadi,” ungkapnya.
Ia bahkan memperingatkan, jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin kekuatan politik HW akan mengalami penurunan tajam pada kontestasi berikutnya.
“Politik itu soal kepercayaan. Begitu basis fanatik merasa dikhianati, jatuhnya bukan pelan-pelan, akan tetapi bisa langsung hancur,” tambahnya.
“Cukup 1 periode saja, untuk periode ke 2 kami sudah menabuh genderang perang sebagai gerbong perlawanan,” pungkasnya.***













