LOMBOK TIMUR

113 Ribu Hektare Lahan Kering di Lotim Diatasi dengan Embung dan Sumur Bor

×

113 Ribu Hektare Lahan Kering di Lotim Diatasi dengan Embung dan Sumur Bor

Share this article

LOMBOK TIMUR | FMI – Kabupaten Lombok Timur memiliki 45.000 hektare sawah beririgasi, Namun, tantangan utama terletak pada luasnya lahan kering seluas 113.000 hektare yang tersebar di lima kecamatan.

Dalam mengelola lahan kering, kata Bupati Lombok Timur Haerul Warisin, petani memiliki strategi sendiri berdasarkan zona wilayah seperti di Pringgabaya, Sambalia, Sakra Timur, Keruak, dan Jerowaru.

“Untuk menyiasati keterbatasan air di lahan kering, para petani menerapkan dua strategi berbeda berdasarkan zona wilayah,” kata Bupari saat panen raya jagung di Desa Gunung Malang, Kecamatan Pringgabaya, Kamis (23/4/2026).

Di wilayah selatan, kata Bupati, petani berinovasi mandiri dengan mengorbankan sebagian lahan demi keberlanjutan irigasi. Dari total 1,5 hektare lahan yang dimiliki, petani secara sukarela mengalokasikan 0,5 hektare untuk dijadikan embung penampung air hujan.

Sedangkan di wilayah utara, kata dia, petani mengandalkan air hujan untuk penanaman pertama. Namun, wajib menggunakan sumur bor jika ingin melakukan penanaman kedua.

Bupati optimistis manajemen air yang tepat dan dukungan lembaga seperti Baznas RI dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah lahan kering. “Keberhasilan pengelolaan lahan ini berdampak langsung pada stabilitas ekonomi daerah,” ujarnya.

Hingga saat ini, kata dia, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lombok Timur masih didominasi sektor pertanian. Selain pangan, Lombok Timur memiliki komoditas unggulan tembakau yang memberi kontribusi signifikan melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) senilai Rp50 miliar.

Bupati memberi catatan khusus mengenai ketangguhan petani lokal dalam menjaga stabilitas ekonomi. Berdasarkan analisis usaha tani, ia meyakini komoditas padi tetap menjadi barometer kesejahteraan petani di Lombok Timur.

Bupati menyatakan petani di Lombok Timur menunjukkan kemampuan luar biasa dalam mengelola lahan. “Dengan luasan minimal satu hektare padi, petani mampu memperoleh hasil yang sangat memadai,” katanya.

Hal itu didukung kondisi iklim dan lingkungan dalam beberapa tahun terakhir yang minim hambatan sehingga berdampak pada pertumbuhan ekonomi kabupaten yang semakin positif.

Sebagai bentuk dukungan, pemerintah terus memberikan pendampingan dan atensi khusus terkait perlindungan tanaman dari hama dan penyakit. Langkah ini dilakukan melalui pelatihan teknis guna meminimalkan risiko gagal panen.

Ia optimistis dengan pembekalan yang tepat, hasil panen tahun ini dan masa depan akan terus meningkat tanpa ada penghalang signifikan.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *