LOMBOK TIMUR | FMI – Eksekutif Kabupaten Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EK-LMND) Lombok Timur menggelar aksi unjuk rasa di depan Markas Kepolisian Resor (Polres) setempat, Senin (8/6/2026).
Massa mendesak aparat penegak hukum lebih serius, transparan, dan berpihak kepada korban dalam menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Dalam aksi, LMND Lotim menyerahkan manifesto berisi sejumlah tuntutan. Organisasi mahasiswa ini menilai tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Lotim menunjukkan lemahnya sistem perlindungan kelompok rentan serta belum optimalnya penegakan hukum.
Ketua EK-LMND Lombok Timur Khairul Azmi mengatakan, kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan persoalan kriminal biasa, melainkan persoalan sosial yang butuh keberpihakan negara.
“Kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak dapat dipandang sebagai persoalan kriminal biasa, melainkan persoalan sosial yang membutuhkan keberpihakan negara dan keseriusan aparat dalam memberikan perlindungan kepada korban,” ujar Khairul Azmi.
Menurutnya, masih banyak korban kesulitan mendapat keadilan akibat lambannya proses hukum, minimnya perlindungan korban dan saksi, serta praktik penyelesaian yang tidak berpihak kepada korban.
Dalam aksi tersebut, LMND menyoroti kasus kematian tragis Rizki Nurfitri (8) warga Desa Rumbuk. Peristiwa yang terjadi pada Mei 2023 silam dinilai belum menemui titik terang.
“Kami mendesak Polres Lombok Timur membuka perkembangan penanganan kasus Rizki Nurfitri secara transparan kepada publik dan keluarga korban. Pastikan proses hukum berjalan profesional dan berkeadilan,” tegasnya.
Selain percepatan penanganan seluruh laporan, Khairul Azmi juga mendorong pembentukan mekanisme pengaduan cepat, aman, dan mudah diakses hingga tingkat desa.
Ia juga menolak segala bentuk intimidasi maupun upaya damai paksa terhadap korban kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
‘Aksi ini bentuk kontrol masyarakat terhadap kinerja aparat penegak hukum sekaligus dorongan agar negara hadir memberikan perlindungan nyata bagi perempuan dan anak,” tutup Khairul Azmi.
Aksi berlangsung damai dan ditutup dengan penyerahan manifesto yang diterima langsung Wakapolres Lombok Timur sebagai komitmen mengawal penyelesaian kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.***













