LOMBOK TIMUR | FMI – Bupati Lombok Timur Haerul Warisin meminta manajemen PD Agro Selaparang segera menuntaskan piutang yang belum tertagih meski kinerja perusahaan membaik pada 2025.
Permintaan itu disampaikan saat menghadiri Rapat Laporan Pertanggungjawaban Keuangan PD Agro Selaparang Tahun Buku 2025, Rabu (20/5/2026). Bupati menilai transparansi dan pengawasan ketat kunci menjaga kepercayaan publik.
“Transparansi harus dipraktikkan untuk menuju kebenaran. Semua pengelolaan harus terbuka agar tidak ada ruang untuk saling curiga,” tegasnya.
Haerul Warisin mengapresiasi kenaikan laba bersih perusahaan sebesar 34,58 persen menjadi Rp214,4 juta. Pendapatan kotor tercatat Rp2,903 miliar, beban operasional Rp2,639 miliar. Total aset naik Rp2,44 miliar menjadi Rp14,26 miliar per 31 Desember 2025. Dividen ke Pemda Lotim disetor Rp117,9 juta.
Meski begitu, ia menyoroti piutang yang masih menumpuk. Ia meminta dibentuk tim khusus percepatan penagihan.
Untuk mendongkrak pendapatan, Bupati mendorong peningkatan kapasitas produksi AMDK dan es batu kristal. Kebutuhan pasar dinilai masih besar, terutama untuk sektor kuliner dan minuman.
Ia juga mendukung skema barter dengan mitra Surabaya dengan skema Lotim kirim jagung, mitra suplai bibit ayam, pakan, ikan, dan obat-obatan. “Pola ini efisien karena memenuhi kebutuhan langsung masyarakat,” tegasnya.
Bupati meminta direksi selektif memilih mitra, terutama untuk bisnis cangkang kemiri, dan menekan biaya operasional. Pemda siap membantu lewat penambahan fasilitas penunjang.
Sementara, Dirut PD Agro Selaparang, Sabar menyebut 2025 penuh tantangan. Perusahaan menjalankan distribusi pupuk subsidi, produksi es balok, garam beryodium, AMDK, beras kemasan, jagung pipilan, hingga budidaya perikanan.
Sejumlah pembenahan sudah dilakukan, kata dia, dimulai dari renovasi gudang garam, pasang CCTV, digitalisasi pembukuan, dan pelunasan tunggakan pajak Rp600 juta serta BPJS Ketenagakerjaan Rp108,8 juta periode 2019–2021.
Sedangkan ketua Dewan Pengawas Wimuhcianto mengapresiasi kinerja direksi, tapi menekankan efisiensi, manajemen risiko, dan peningkatan SDM agar usaha lebih produktif dan berdaya saing.***













