LOMBOK TIMUR | FMI – Rencana pembangunan ruas jalan Jor menuju kawasan wisata Bale Mangrove dipastikan batal dikerjakan tahun 2025. Proyek yang dijanjikan tahun sebelumnya itu ditunda akibat kebijakan efisiensi anggaran.
Jalan tersebut sangat dinantikan warga setempat karena merupakan akses utama ke kawasan pariwisata mangrove. Penundaan ini berpotensi menghambat mobilitas warga dan perkembangan wisata.
Kendati demikian, Kabid Bina Marga PUPR Lombok Timur, Aprian akan tetap mengupayakan realisasi pembangunan ruas jalan tersebut di masa pemerintahan Bupati Haerul Warisin dan Wakil Bupati Edwin Hadiwijaya.
Terkait kepastian waktu pembangunan, Aprian nampak bersikap hati-hati dalam memberikan keterangan. Langkah ini diambil agar tidak menjadi janji yang tidak terpenuhi nantinya.
“Proyek pembangunan jalan ini kita upayakan realisasi di masa pemerintahan Smart, untuk tahunnya kita tidak berani menjanjikan,” ujar Aprian.
Untuk sumber pendanaan, kata dia, pihaknya akan berupaya memasukkan proyek tersebut ke dalam program Dana Alokasi Khusus (DAK). Jika tidak terakomodasi di DAK, opsi lain menggunakan anggaran daerah melalui Dana Alokasi Umum (DAU).
Sebelumnya diberitakan, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kecamatan Jerowaru mendesak pemerintah segera melakukan perbaikan ruas jalan dari Jor menuju Ekowisata Bale Mangrove.
“Jalan ini wajah daerah. Kalau aksesnya rusak begini, bagaimana mau nyamanin wisatawan? Padahal Bale Mangrove ini potensi besar Jerowaru,” kata Herman, Sekretaris KNPI Kecamatan Jerowaru, Sabtu (11/4/2026).
Menurut Herman, kerusakan yang dibiarkan belasan tahun menunjukkan lemahnya komitmen pemerintah terhadap sektor pariwisata. Ia menilai, perbaikan jalan menuju destinasi wisata harus jadi prioritas karena berdampak langsung pada kunjungan dan PAD.
Sementara itu, Pengelola Bale Mangrove, Endi Irawan, menegaskan kondisi ruas jalan yang menghubungkan antara Dusun Telong-Elong dan Dusun Jor memang sangat perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah daerah. Terlebih ruas jalan ini merupakan akses vital wisatawan yang hendak menyeberang ke Pantai Pink melalui jalur penyeberangan Telong-Telong dan Ekowisata Bale Mangrove.
“Jika terus dibiarkan kondisinya seperti ini maka saya khawatir ini akan berdampak pada menurunnya angka pengunjung pada destinasi-destinasi wisata yang ada di Kecamatan Jerowaru. Dan tentu ini juga akan berdampak buruk terhadap perekonomian warga masyarakat yang mulai tumbuh pada sektor wisata,” ujar Endi.***













