LOMBOK TIMUR

Tradisi Bubus Mangkung, Warisan Pengobatan Sasak yang Tak Lekang Zaman

×

Tradisi Bubus Mangkung, Warisan Pengobatan Sasak yang Tak Lekang Zaman

Share this article

LOMBOK TIMUR | FMI – Di tengah derasnya modernisasi, pengobatan tradisional Suku Sasak masih hidup di Jerowaru, Lombok Timur. Salah satunya tradisi Bubus Mangkung. Warisan leluhur ini bertahan karena dipercaya masyarakat dan diwariskan turun-temurun.

Tradisi Bubus Mangkung memadukan ramuan herbal khas dengan nilai filosofis mendalam serta tata cara ritual unik.

Menurut penuturan Abdul Khaliq, Bubus Mangkung sebenarnya berasal dari Jerowaru. Awalnya ramuan ini dikenal sebagai Bubus Bale-Beleq karena merupakan pusaka asli Jerowaru. Namun seiring waktu, ramuan ini dipraktikkan lama di Mangkung sehingga masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Bubus Mangkung.

“Bubus adalah metode pengobatan tradisional Sasak warisan turun-temurun. Bahan dasarnya beras yang dicampur rempah khusus. Bedanya dengan Bubus Tiwong, Jowong, atau Tuju, Bubus Mangkung punya racikan rahasia yang tidak dipakai jenis bubus lain,” kata Abdul Khaliq, dikutip melalui Video yang ditayangkan akun medsos Kabar KaeLes, Rabu (3/6/2026).

Ia menegaskan, belian di sini berarti tabib. Tugasnya murni meracik obat untuk pasien. Menurutnya, setiap pasien wajib membawa rempah dari luar. Rempahnya meliputi mesui, kulit kayu lawang, kembang terune semalem, kencur, adas, dan inen kunyit atau induk kunyit. “Jika pasien tidak tahu, belian yang menyiapkan,” kata Abdul Khaliq.

Kemudian rempah-rempah tersebut, kata dia, digabung dengan bahan turun-temurun yang disimpan belian di dalam ceraken atau wadah pusaka. Di antaranya akah bunut atau akar beringin dan kulit kayu delima putih.

Abdul Khaliq menywbut ciri khas Bubus Mangkung ada pada dua warna ramuannya. Putih dan kuning tidak boleh dipisah karena satu paket.

“Semua tepung rempah digiling jadi bubus putih. Lalu adonan dibagi dua. Sebagiannya dicampur induk kunyit sampai jadi kuning dan dibentuk pipih atau depeng,” jelas Abdul Khaliq.

Secara filosofis, bubus putih melambangkan air mani laki-laki, bubus kuning melambangkan ovum atau air mani perempuan. Keduanya, masing-masing 6-7 biji, disatukan di mangkok bubus lalu diaduk sebelum dibalurkan ke pasien. “Ini simbol penyatuan kehidupan,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia menhelaskan proses pembuatan bubus harus dilengkapi andang-andang atau sesaji syarat. Menurutnya, ada dua paket andang-andang penggilik saat menggiling, dan andang-andang penongkos.

Isinya beras, kepeng bratakan atau uang koin kuno, benang satukel atau benang mentah, daun sirih bertangkai, dan buah pinang bertangkai. Mangkok berisi tepung bubus diletakkan di atas sesaji.

“Andang-andang jadi simbol kesungguhan dan pengikat janji antara pasien dengan belian,” kata Abdul Khaliq menekankan, belian tidak boleh mematok tarif. Semua berdasarkan keikhlasan pasien. Kadang pasien juga membawa ayam atau ayam dulang sebagai syarat tambahan.

Sementara Kepala Desa Jerowaru M. Nashruddin mengakui kepercayaan warga ke pengobatan alternatif seperti bebubus masih sangat kuat.

“Alasan utama warga tidak meninggalkan tradisi ini karena khasiatnya nyata. Terbukti memberi efek kesembuhan bagi warga yang sakit. Karena itu eksistensinya tetap terjaga sampai sekarang,” ujarnya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *